HANYA OLEH KASIH KARUNIA ALLAH

Prakata
Syukur kepada Allah, atas pertolongan dan penyertaanNya, Gereja Presbyterian Orchard Jemaat berbahasa Indonesia, pada tanggal 9 Mei 2013 telah memasuki tahun pelayanan yang ke 37 tahun. Syukur pula kepada Allah, karena pertolongan dan penyertaanNya, kita (sekitar 230 orang) dapat mengikuti kegiatan Camp Jemaat, di Johor Bahru pada tanggal 24-26 Mei 2013. Kita bersyukur mendapatkan kesempatan menerima uraian yang sangat dalam, kaya akan informasi biblika serta sangat sederhana dalam penyampaian pesannya, tentang “Grow in Grace” oleh hambaNya Pdt. Rufus Alexander Waney, M.Th., yang mengangkat kisah iman Zakheus dan Nikodemus, sebagai representasi keunikan pengalaman seseorang dijumpai oleh Allah, bertobat, dan mengalami pertumbuhan dalam kasih karunia Allah. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah “What next?”.
Melalui kesempatan ini, melalui ruang “Suara Gembala”, saya akan menyampaikan pokok-pokok pikiran penting dari dasar Alkitabiah serta dilengkapi dengan beberapa catatan kritis berangkat dari pengalaman pelayanan dan bergereja, yang kiranya dapat memberikan tuntunan bagi kita untuk melanjutkan proses pertumbuhan dalam kasih karunia Allah.
“Kokoh, Kukuh, Keukeuh”
Ada pertanyaan sederhana yang kadang dimunculkan dalam beberapa kali percakapan, baik percakapan ringan maupun dalam tanya jawab di momen seminar internasional, pertanyaannya adalah “Mengapa orang Yahudi yang memelihara hukum Taurat dan kitab Para Nabi, yang di dalamnya tertera nubuat tentang Mesias, justru mereka yang menyalibkan Yesus Kristus dan hanya sedikit orang Yahudi yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai TUHAN dan JURUSELAMAT?”
Jika kita membaca Alkitab dengan baik, cermat, dan sungguh-sungguh, maka jawaban dari pertanyaan tadi, bisa dijawab karena mereka Kokoh, Kukuh, dan Keukeuh (dialek bahasa sunda). Mengapa Kokoh, Kukuh, dan Keukeuh? Ya, dikatakan orang-orang Yahudi kokoh karena mereka memiliki sejarah iman yang sangat kuat, mulai dari Abraham (Kejadian pasal 12 dan seterusnya, bapak leluhur mereka) sampai dengan Daud – raja yang sangat religius dan kharismatik. Mereka dikatakan kokoh, karena mereka menerima Sepuluh Perintah Allah melalui Musa, yang kemudian mereka jabarkan dalam Hukum Taurat dan hukum-hukum yang lebih luas dan detail. Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang kokoh dalam ikatan perjanjian Allah dan dibangun atas perintah dan hukum Allah.
Kekokohan mereka dibuat menjadi kukuh (lebih kepada pendirian, sikap dan tindakan), ketika mereka memelihara perjanjian dan hukum Allah, mulai dari masa kanak-kanak sampai lanjut usia, mulai dari pendidikan non-formal – kegiatan-kegiatan sehari-hari – sampai dengan pendidikan formal keagamaan (baca Ulangan 6:4-9). Dengan model pembinaan, pendidikan serta penghayatan ’hampir’ menyita seluruh waktu hidup mereka (from womb to tomb), maka mereka menjadi begitu kukuh dalam pemahaman dan penghayatan iman mereka kepada Allah. Namun, sejarah hidup bangsa Israel menunjukkan perjalanan yang tidak sesuai harapan bahkan kontradiksi dengan identitas serta kualitas mereka sebagai umat Allah. Israel terjebak dalam kepongahan dan kelimpahan, khususnya ketika mereka memasuki babakan sejarah setelah kepemimpinan raja Salomo. Hidup iman kepada Allah hanya sebatas ritual-ceremonial, hidup iman kepada Allah tidak lagi menjadi hidup yang personal- fundamental. Segala perintah dan hukum Allah dikooptasi dengan berbagai kepentingan politis kelompok atau demi mendapatkan keuntungan ekonomis. Perintah dan hukum Allah ’ditunggangi’ oleh oknum-oknum Imam yang tidak lagi membangun passion beribadah kepada Allah dengan benar, tetapi justru membiarkan secara liar passion mereka kepada kubangan hedonistis. Mereka yang kokoh dan kukuh menjadi keukeuh, dan mereka semakin keukeuh, karena mereka menghadapi kenyataan bahwa hidup mereka semakin terpuruk, berabad-abad mereka dikuasai dan dijajah oleh bangsa asing (malah sejak abad ke-5 sebelum Masehi, sebenarnya negara dan bangsa Israel sudah tidak ada sampai kemudian pada tahun 1948 ’dimerdekakan’ melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan negara sponsor Amerika dan Inggris).
Dengan situasi dan keadaan demikian, maka mereka menafsir dan selalu mengartikan janji-janji Allah sebatas kebutuhan dan kepentingan mereka; sehingga kedatangan Kristus Yesus, Allah yang menjadi manusia tidak lagi dapat mereka pahami dengan benar. Kitab-kitab Injil sangat jelas membeberkan betapa keukeuhnya orang-orang Yahudi, khususnya para Imam yang menolak kehadiran, pelayanan dan keberadaan Yesus Kristus, yang adalah MESIAS yang sejati, yang janji-janji tentang Mesias sangat dimengerti oleh mereka? Bukankah hal ini adalah suatu sikap dan tindakan yang PARADOKS? Mereka tidak (mau) melihat kasih karunia Allah dan mereka tidak (mau) menerima kasih karunia Allah yang dinyatakan dengan kedatanganNya dan karya keselamatanNya.
Hanya oleh Kasih Karunia Allah
Kita – orang Kristen, orang Kristen Indonesia – bukan orang Yahudi dan juga bukan keturunan Yahudi, tetapi kita menerima dan hidup oleh kasih karunia Allah, mengapa bisa demikian?
Mari kita lihat dan baca, apa yang rasul Paulus katakan dalam surat Roma pasal 1:1-7:
1Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 2Injil itu telah dijanjikanNya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab suci, 3tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 4dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. 5Dengan perantaraanNya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada namaNya. 6Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. 7Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.
Surat kepada jemaat di Roma menjadi sangat berpengaruh karena nilai strategis kota Roma sebagai pusat pemerintahan Romawi, dan nilai strategis untuk pemberitaan Injil ke berbagai wilayah. Surat ini diperkirakan ditulis pada kisaran tahun 57 dan 59M, sebelum Kaisar Klaudius melakukan pengusiran terhadap orang Yahudi (menurut data sejarahwan Suetonius, pengusiran itu terjadi karena ”Chrestus”). Perseteruan jemaat Kristen yang berlatar belakang Yahudi dengan yang non-Yahudi merupakan salah satu pokok persoalan yang mengemuka dalam kehidupan jemaat Kristen perdana termasuk di kota Roma, namun pada saat bersamaan muncul juga semacam pergunjingan di kalangan rasul dan pejabat gereja di Yerusalem yang mempertanyakan tentang kerasulan Paulus.
Surat kepada Jemaat di kota Roma merupakan salah satu dari surat Paulus yang penting, karena di dalam surat ini jelas terlihat pengajaran iman yang lebih kokoh, teratur dan dewasa. Surat kepada jemaat di Roma ditulis oleh Paulus mendahului kedatangannya ke kota Roma; hal tersebut dilakukan karena Paulus mendengar kabar tentang perkembangan jemaat Kristen di Roma yang terganggu dengan adanya selisih paham dalam persekutuan jemaat dan pengaruh dari kelompok Yahudi Ortodoks serta guru-guru palsu yang mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan pemahaman iman Kristen. Dalam suratnya Paulus menguraikan pemahaman iman tentang:
• Kebenaran Allah (bhs. Yun. Dikaiosune tou Theou); Kebaikan Allah (bhs. Yun, O Theos tes hypomones kai tes parakleseos, Allah yang tabah dan menghibur);
• Kedaulatan Allah, diuraikan tentang kedaulatan Allah untuk menyatakan KeselamatanNya bagi Israel maupun bagi bangsa-bangsa;
• Kasih karunia Allah, diuraikan bahwa keselamatan yang Allah kerjakan dan berikan kepada ciptaanNya adalah anugerah dariNya; dan Hukum Allah, Paulus menegaskan arti dan makna hukum Allah dalam hidup orang beriman.
Paulus memberikan penjelasan awal di suratnya tentang makna panggilan dan pengutusan serta kasih karunia Allah.
• Seseorang yang dipanggil dan diutus Allah adalah hamba Allah dan dikuduskan serta bertanggung jawab untuk melakukan pemberitaan Injil (ayat 1).
• Memberitakan Injil berarti menyampaikan keutuhan penyataan kasih karunia Allah, yang telah disampaikan sejak lama melalui para nabi, digenapi melalui kelahiran, kehidupan, pelayanan, penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Kasih karunia Allah, yang memerdekakan manusia dari dosa dan menyucikannya serta membuatnya menjadi milik Kristus (ayat 2-6)
Setiap orang percaya yang dipanggil dan menerima kasih karunia Allah (baik rasul maupun jemaat) semuanya menerima kasih karunia Allah.
Ketika kita mau bertumbuh dalam kasih karunia Allah, maka kita menerima kasih karunia Allah dan hidup dalam kasih karunia Allah itu. Bagaimana kita hidup dalam kasih karunia Allah? Kita hidup dalam kasih karunia Allah berarti kita menghayati dan memberlakukan hal-hal sebagai berikut:

> Menjadi seorang Kristen berarti menerima panggilan dan pengutusan Allah di dalam Kristus Yesus untuk menjadi hambaNya, dikuduskan dan memenuhi tanggung jawab memberitakan Injil bagi dunia. Sebagai hamba, berarti:

1. Diubahkan secara total dan radikal: Galatia 1:13-16:
13Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam
agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, 16berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;
Yohanes 8:31-36:
31Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu 32dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” 33Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” 34Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

2. Tidak mencari keuntungan demi kepentingannya sendiri: Galatia 1:10
10Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
3. Sungguh-sungguh mengerjakan kasih karunia Allah demi kasih karunia Allah: Galatia 1:17, 2:1:
1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.
2:1 Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga.

> Menjadi seorang Kristen berarti kita wajib mengerti dan menghayati benar INJIL (Berita Kesukaan) dari Allah bagi dunia; hal ini berarti menjadi seorang Kristen semestinya terus-menerus membangun kehidupan berimannya yang dinamis dan konstruktif yang terus mengarah kepada kedewasaan iman, sehingga semakin sungguh dalam menyampaikan pemberitaan bagi banyak orang

> Menjadi seorang Kristen berarti sadar benar bahwa hidupnya berharga bukan karena perbuatannya, bukan karena jabatan (yang dipercayakannya secara gerejawi), bukan pula karena berbagai hal yang dimilikinya, melainkan HANYA OLEH KASIH KARUNIA ALLAH. Hal ini memberikan penegasan bahwa seorang Kristen adalah seorang yang sadar bahwa hidupnya menjadi berharga karena kasih karunia Allah.
Selamat untuk kasih karunia Allah yang bapak/ibu/ saudara-saudari terima, dan hiduplah dalam kasih karunia Allah itu serta nyatakanlah melalui keutuhan hidup.TUHAN memberkati kita sekalian •

About admin